Ibu Hamil tak jarang mengalami mual dan muntah pada saat proses kehamilannya berlangsung di trimester pertama, hal itu merupakan gejala fisik ringan apabila intensitasnya tidak melebihi muntah normal, apabila melebihi muntah normal kurang lebih dari 10x mual disertai muntah yang berlebihan dalam sehari, yang sampai mengganggu aktivitas dan mengalami penurunan keadaan ibu hamil ini disebut dalam bahasa medisnya "Hyperemesis Gravidarum".
Anda pasti ingin tau banyak tentang ini,
ayo kita simak ulasannya dibawah ini;
----------------------------------------------------------------------------------------------
Berikut Ulasannya:
" HYPEREMESIS GRAVIDARUM "
Hyperemesis Gravidarum adalah mual muntah berlebihan selama masa hamil karena intensitasnya melebihi muntah normal dan berlangsung selama kehamilan trimester pertama (Varney, 2006).
Hyperemesis Gravidarum merupakan kejadian mual dan muntah yang berlebihan sehingga mengganggu pada ibu hamil. Hyperemesis Gravidarum sering terjadi pada awal kehamilan antara umur kehamilan 8-12 minggu. Apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi bahkan kematian ibu dan janin. Prevalensi hyperemesis gravidarum antara 1-3 % atau 5-20 kasus per 1000 kehamilan (Simpson et.al, 2001). Hiperemesis Gravidarum diartikan sebagai muntah yang terjadi secara berlebihan selama kehamilan (Hellen Farrer, 1999, hal:112).
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Rustam Mochtar, 1998).
Hiperemesis
Gravidarum (vomitus yang merusak dalam kehamilan) adalah nousea dan
vomitus dalam kehamilan yang berkembang sedemikian luas sehingga menjadi
efek sistemik, dehidrasi dan penurunan berat badan (Ben-Zion, MD,
Hal:232).
Etiologi Hiperemesis Gravidarum:
Etiologi Hiperemesis Gravidarum:
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi
kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor predisposisi yang
dikemukakan (Rustam Mochtar, 1998). Umumnya terjadi pada primigravida,
mola hidatidosa, diabetes dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar
HCG Faktor organik, yaitu karena masuknya viki khoriales dalam sirkulasi
maternal dan perubahan metabollik akibat kehamilan serta resitensi yang
menurun dari pihak ibu terhadap perubahan–perubahan ini serta adanya
alergi yaitu merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap
janin.
Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga yang
retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan,
takut terhadap tanggungan sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental
yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar
terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
Faktor endokrin lainnya: hipertyroid, diabetes dan lain-lain.
Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa
terjadi pada trimester I. bila perasaan terjadi terus-menerus dapat
mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk
keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah
ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida butirik
dan aseton darah.
Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga caira ekstraseluler dan plasma
berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu dehidrasai
menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan
berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke
jaringan berkuang pula tertimbunnya zat metabolik yang toksik.
Disamping dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. Disamping
dehidraasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan
pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma mollary-weiss),
dengan akibat perdarahan gastrointestinal.
Manifestasi Klinis/ Tanda dan gejala Hiperemesis Gravidarum. Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum
tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali
muntah. Akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap
sebagai hiperemesis gravidarum.
Menurut berat ringannya gejala dibagi
menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan I (ringan)
- Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita,
- Ibu merasa lemah,
- Nafsu makan tidak ada,
- Berat badan menurun,
- Merasa nyeri pada epigastrium,
- Nadi meningkat sekitar 100 per menit,
- Tekanan darah menurun,
- Turgor kulit berkurang,
- Lidah mengering,
- Mata cekung
2. Tingkatan II (sendang)
- Penderita tampak lebih lemah dan apatis,
- Turgor kulit mulai jelek,
- Lidah mengering dan tampak kotor,
- Nadi kecil dan cepat,
- Suhu badan naik (dehidrasi),
- Mata mulai ikterik,
- Berat badan turun dan mata cekung,
- Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi,
- Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.
3. Tingkatan III (berat)
- Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma),
- Dehidrasi hebat,
- Nadi kecil, cepat dan halus,
- Suhu badan meningkat dan tensi turun,
- Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan
enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan penurunan
mental,
- Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.
Penatalaksanaan/ Penanganan/ Pengobatan/ Terapi Hiperemesis Gravidarum Pencegahan Hiperemesis Gravidarum:
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan
memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu
proses yang fisiologis. Hal itu dapat dilakukan dengan cara:
1. Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang
fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan berumur
4 bulan.
2. Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering.
3. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi
dianjurkan untuk makan roti kering arau biskuit dengan teh hangat.
4. Hindari makanan yang berminyak dan berbau lemak
5. Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu panas atau terlalu dingin.
6. Usahakan defekasi teratur.
7. Terapi obat-obatan, Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan pengobatan:
- Tidak memberikan obat yang terotogen.
- Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital.
- Vitamin yang sering dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6.
- Antihistaminika seperti dramamine, avomine.
- Pada keadaan berat, anti emetik seperti diklomin hidrokhoride atau khlorpromazine.
Komplikasi Hiperemesis Gravidarum:
Hiperemesis Gravidarum dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan pada organ tubuh, diantaranya kelainan organ hepar, jantung, otak dan ginjal. Adapun kelainan organ pada hepar menyebabkan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis; pada jantung menyebabkan jantung atrofi, kecil dan biasa; pada otak menyebabkan perdarahan bercak dan pada ginjal menyebabkan pucat, degenerasi lemak pada tubuli kontroli.
Hiperemesis gravidarum tingkatan II dan III harus dirawat inap di rumah
sakit. Adapun terapi dan perawatan yang diberikan adalah sebagai berikut:
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan
peredaran udara baik. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya
perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Catat cairan yang keluar dan
masuk. Kadang-kadang isolasi dapat mengurangi atau menghilangkan gejala
ini tanpa pengobatan
Terapi psikologik.
Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar,normal
dan fisiologik. Jadi tidak perlu takur dan khawatir. Yakinkan penderita
bahwa penyakit dapat disembuhkan dan dihilangkan masalah atu konflik
yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini.
2. Terapi mental
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein
dengan glukosa 5 %, dalam cairan gram fisiologis sebanya 2-3 liter
sehari. Bila perlu dapat ditambah dengan kalium dan vitamin khususnya
vitamin B kompleks dn vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat
diberikan pula asam amino esensial secara intravena. Buat dalam daftar
kontrol cairan yang amsuk dan dikeluarkan. Berikan pula obat-obatan
seperti yang telah disebutkan diatas.
3. Terminasi kehamilan
Pada beberapa kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan
mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk.
Delirium, kebutaan, takikardia, ikterik, anuria, dan perdarahan
merupakan manifestasi komplikasi organik.
Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan.
Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh
karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu capat dan dipihal
lain tidak boleh menunggu sampai terjadi irreversible pada organ vital.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
Sumber Data:
- Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hlm. 195-197.
- Ben Zion T, 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri & Genekologi, Edisi 1. Jakarta: EGC.
- , Kampusdokter- dan Lusaweb, 2013. "Hyperemesis Gravidarum"
- Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hlm. 195-197.
- Ben Zion T, 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri & Genekologi, Edisi 1. Jakarta: EGC.
- , Kampusdokter- dan Lusaweb, 2013. "Hyperemesis Gravidarum"
- Fadlun, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika. Hlm. 39-40.
---- SEMOGA BERMANFAAT ----




