Kamis, 19 Maret 2015

Hyperemesis Gravidarum pada Kehamilan

Ibu Hamil tak jarang mengalami mual dan muntah pada saat proses kehamilannya berlangsung di trimester pertama, hal itu merupakan gejala fisik ringan apabila intensitasnya tidak melebihi muntah normal, apabila melebihi muntah normal kurang lebih dari 10x mual disertai muntah yang berlebihan dalam sehari, yang sampai mengganggu aktivitas dan mengalami penurunan keadaan ibu hamil ini disebut dalam bahasa medisnya "Hyperemesis Gravidarum". 
Anda pasti ingin tau banyak tentang ini, 
ayo kita simak ulasannya dibawah ini; 
---------------------------------------------------------------------------------------------- 
Berikut Ulasannya:


" HYPEREMESIS GRAVIDARUM "

Hyperemesis Gravidarum adalah gejala mual muntah pada ibu hamil trimester pertama yang terjadi setiap saat (Wiknjosastro, 2007).

Hyperemesis Gravidarum adalah mual muntah berlebihan selama masa hamil karena intensitasnya melebihi muntah normal dan berlangsung selama kehamilan trimester pertama (Varney, 2006).


Hyperemesis Gravidarum merupakan kejadian mual dan muntah yang berlebihan sehingga mengganggu pada ibu hamil. Hyperemesis Gravidarum sering terjadi pada awal kehamilan antara umur kehamilan 8-12 minggu. Apabila tidak tertangani dengan baik akan menyebabkan komplikasi bahkan kematian ibu dan janin. Prevalensi hyperemesis gravidarum antara 1-3 % atau 5-20 kasus per 1000 kehamilan (Simpson et.al, 2001).

Hiperemesis Gravidarum diartikan sebagai muntah yang terjadi secara berlebihan selama kehamilan (Hellen Farrer, 1999, hal:112).


Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena pada umumnya menjadi buruk karena terjadi dehidrasi (Rustam Mochtar, 1998). 

Hiperemesis Gravidarum (vomitus yang merusak dalam kehamilan) adalah nousea dan vomitus dalam kehamilan yang berkembang sedemikian luas sehingga menjadi efek sistemik, dehidrasi dan penurunan berat badan (Ben-Zion, MD, Hal:232). 

Etiologi Hiperemesis Gravidarum: 
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor predisposisi yang dikemukakan (Rustam Mochtar, 1998). Umumnya terjadi pada primigravida, mola hidatidosa, diabetes dan kehamilan ganda akibat peningkatan kadar HCG Faktor organik, yaitu karena masuknya viki khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabollik akibat kehamilan serta resitensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan–perubahan ini serta adanya alergi yaitu merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap janin. 

Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggungan sebagai ibu dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup. Faktor endokrin lainnya: hipertyroid, diabetes dan lain-lain.

Patofisiologi / Patogenesis Hiperemesis Gravidarum: 
Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen yang biasa terjadi pada trimester I. bila perasaan terjadi terus-menerus dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseto-asetik, asam hidroksida butirik dan aseton darah. 

Muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga caira ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan klorida darah turun. Selain itu dehidrasai menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jaringan berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan berkuang pula tertimbunnya zat metabolik yang toksik. 

Disamping dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit. Disamping dehidraasi dan gangguan keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esofagus dan lambung (sindroma mollary-weiss), dengan akibat perdarahan gastrointestinal. 

Manifestasi Klinis/ Tanda dan gejala Hiperemesis Gravidarum. Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah. Akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. 

Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu:
1. Tingkatan I (ringan) 
- Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita,
- Ibu merasa lemah
- Nafsu makan tidak ada,
- Berat badan menurun,
- Merasa nyeri pada epigastrium,
- Nadi meningkat sekitar 100 per menit,
- Tekanan darah menurun,
- Turgor kulit berkurang,
- Lidah mengering
- Mata cekung 

2. Tingkatan II (sendang) 
- Penderita tampak lebih lemah dan apatis, 
- Turgor kulit mulai jelek, 
- Lidah mengering dan tampak kotor, 
- Nadi kecil dan cepat, 
- Suhu badan naik (dehidrasi), 
- Mata mulai ikterik, 
- Berat badan turun dan mata cekung, 
- Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi, 
- Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria. 

3. Tingkatan III (berat) 
- Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma),
- Dehidrasi hebat, 
- Nadi kecil, cepat dan halus, 
- Suhu badan meningkat dan tensi turun, 
- Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan penurunan mental, 
- Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati. 

Penatalaksanaan/ Penanganan/ Pengobatan/ Terapi Hiperemesis Gravidarum Pencegahan Hiperemesis Gravidarum:
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis. Hal itu dapat dilakukan dengan cara: 
1. Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan berumur 4 bulan. 
2. Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering. 
3. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering arau biskuit dengan teh hangat. 
4. Hindari makanan yang berminyak dan berbau lemak 
5. Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu panas atau terlalu dingin. 
6. Usahakan defekasi teratur. 
7. Terapi obat-obatan, Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan pengobatan:
- Tidak memberikan obat yang terotogen. 
- Sedativa yang sering diberikan adalah phenobarbital. 
- Vitamin yang sering dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6. 
- Antihistaminika seperti dramamine, avomine. 
- Pada keadaan berat, anti emetik seperti diklomin hidrokhoride atau khlorpromazine.

Komplikasi Hiperemesis Gravidarum:
Hiperemesis Gravidarum dapat menyebabkan komplikasi selama kehamilan pada organ tubuh, diantaranya kelainan organ hepar, jantung, otak dan ginjal. Adapun kelainan organ pada hepar menyebabkan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis; pada jantung menyebabkan jantung atrofi, kecil dan biasa; pada otak menyebabkan perdarahan bercak dan pada ginjal menyebabkan pucat, degenerasi lemak pada tubuli kontroli. 

Hiperemesis gravidarum tingkatan II dan III harus dirawat inap di rumah sakit. Adapun terapi dan perawatan yang diberikan adalah sebagai berikut:
 
1. Isolasi 
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang, tetapi cerah dan peredaran udara baik. Jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk. Catat cairan yang keluar dan masuk. Kadang-kadang isolasi dapat mengurangi atau menghilangkan gejala ini tanpa pengobatan Terapi psikologik. 
Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar,normal dan fisiologik. Jadi tidak perlu takur dan khawatir. Yakinkan penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan dan dihilangkan masalah atu konflik yang kiranya dapat menjadi latar belakang penyakit ini. 

2. Terapi mental 
Berikan cairan parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan protein dengan glukosa 5 %, dalam cairan gram fisiologis sebanya 2-3 liter sehari. Bila perlu dapat ditambah dengan kalium dan vitamin khususnya vitamin B kompleks dn vitamin C dan bila ada kekurangan protein, dapat diberikan pula asam amino esensial secara intravena. Buat dalam daftar kontrol cairan yang amsuk dan dikeluarkan. Berikan pula obat-obatan seperti yang telah disebutkan diatas. 

3. Terminasi kehamilan
Pada beberapa kasus keadaan tidak menjadi baik, bahkan mundur. Usahakan mengadakan pemeriksaan medik dan psikiatrik bila keadaan memburuk. Delirium, kebutaan, takikardia, ikterik, anuria, dan perdarahan merupakan manifestasi komplikasi organik. 
Dalam keadaan demikian perlu dipertimbangkan untuk mengakhiri kehamilan. Keputusan untuk melakukan abortus terapeutik sering sulit diambil, oleh karena disatu pihak tidak boleh dilakukan terlalu capat dan dipihal lain tidak boleh menunggu sampai terjadi irreversible pada organ vital. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber Data:
- Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hlm. 195-197.
- Ben Zion T, 1994. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri & Genekologi, Edisi 1. Jakarta: EGC. 
- , Kampusdokter- dan Lusaweb, 2013. "Hyperemesis Gravidarum
"
- Fadlun, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Jakarta: Salemba Medika. Hlm. 39-40.
 
---- SEMOGA BERMANFAAT ----

Tidak ada komentar:

Posting Komentar