Menurut Anda Tidur itu apa?...
Memang
banyak persepsi dari orang-orang sekitar mengatakan berbagai arti yang
berbeda-beda, namun tetap satu makna, pernah kah Anda sekilas berfikir
bahwa tidur itu kebutuhan dasar dan yang paling penting dalam kehidupan
manusia? secara tidak langsung tanpa dipikirpun Anda pasti pernah
merasakan tertidur tanpa disengaja. Pernahkan Anda melawan rasa ingin
tidur disaat mengantuk tanpa bantuan makanan atau minuman yang bisa
mengalihkannya?... Pasti Jawaban Anda tidak bisa, Salah satu penyebab rasa ngantuk
itu diantaranya karena aktivitas yang sangat padat dan berakibat kelelahan pada
tubuh, betapa sulitnya untuk melawan rasa ngantuk tersebut. Mengapa
begitu?... Pasti Anda ingin tau banyak tentang ini, mari kita lanjutkan
pembahasan tentang Tidur dibawah ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Seputar Tentang Tidur
Pengertian dari Tidur:
Tidur adalah keadaan istirahat alami pada berbagai binatang menyusui, burung, ikan, dan binatang tidak bertulang belakang seperti lalat buah Drosophila. Pada manusia dan banyak spesies lainnya, tidur penting untuk kesehatan.
Istirahat adalah
keadaan rileks tanpa adanya tekanan emosional, bukan hanya dalam keadaan
tidak beraktivitas tetapi juga kondisi yang membutuhkan ketenangan.
Terdapat beberapa karakteristik dari istirahat, diantaranya: merasa
segala sesuatu dapat diatasi, merasa diterima, mengetahui apa yang
sedang terjadi, bebas dari gangguan ketidaknyamanan, mempunyai sejumlah
kepuasan terhadap aktivitas yang mempunyai tujuan, mengetahui adanya
bantuan sewaktu memerlukan.
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
Copy and WIN : http://bit.ly/copynwin
Tidur merupakan kondisi tidak sadar di mana
presepsi reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau hilang dan
dapat di bangukan kembali dengan stimulus dan sensori yang cukup (Guyton
1986) dapat juga di katakan sebagai keadaan tidak sadarkan diri yang
relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, namun
lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang dengan ciri adanya
aktivitas yang minim memiliki kesadaran yang bervariasi terdapat
perubahan proses fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap
rangsangan dari luar.
Tidur berasal dari kata bahasa Latin “somnus” yang berarti alami periode
pemulihan, keadaan fisiologi dari istirahat untuk tubuh dan pikiran.
Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu
terhadap lingkungan menurun. (Wahit dan Nurul, 2007).
Tidur merupakan keadaan hilangnya kesadaran secara normal dan periodik
(Lanywati, 2001).
Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar yang dialami seseorang yang dapat
dibangunkan kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Guyton 1981 :
679).
Ada 2 Tahapan Tidur:
1. NREM atau pola tidur biasa
Pola atau tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur.
Pola atau tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur.
Tanda-tanda tidur NREM adalah :
a. Mimpi berkurang
b. Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)
c. Tekanan darah turun
d. Kecepatan pernafasan turun
e. Metabolisme turun
f. Gerakan mata lambat
a. Mimpi berkurang
b. Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)
c. Tekanan darah turun
d. Kecepatan pernafasan turun
e. Metabolisme turun
f. Gerakan mata lambat
Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya.
Tidur NREM ini sendiri terdiri dari 4
tahap, yaitu:
a. Tahap I
Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alfa sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah.
b. Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. Tahap ini berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.
a. Tahap I
Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alfa sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah.
b. Tahap II
Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. Tahap ini berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit.
c. Tahap III
Pada tahap ini kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat.
d. Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM.
2. REM atau Pola Tidur Paradoksikal
Pada tahap ini kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat.
d. Tahap IV
Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM.
2. REM atau Pola Tidur Paradoksikal
Pola atau tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement =
Gerakan Mata Cepat). Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini
bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas
otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM atau Paradoks ini merupakan pola atau tipe
tidur di mana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak
disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan
sekelilingnya kemudian terbangun.
Pola atau tipe tidur ini, ditandai dengan:
a. Mimpi yang bermacam-macam
Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.
b. Mengigau atau bahkan mendengkur
c. Otot-otot kendor (relaksasi total)
d. Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat
e. Perubahan tekanan darah
f. Gerakan otot tidak teratur
g. Gerakan mata cepat
h. Pembebasan steroid
i. Sekresi lambung meningkat
j. Ereksi penis pada pria
a. Mimpi yang bermacam-macam
Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.
b. Mengigau atau bahkan mendengkur
c. Otot-otot kendor (relaksasi total)
d. Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat
e. Perubahan tekanan darah
f. Gerakan otot tidak teratur
g. Gerakan mata cepat
h. Pembebasan steroid
i. Sekresi lambung meningkat
j. Ereksi penis pada pria
Syaraf-syaraf simpatik bekerja
selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan
secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori
(Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama
± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola
tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus.
Siklus Tidur:
Selama tidur, individu melewati tahap tidur NREM dan REM. Siklus tidur yang komplek normalnya berlangsung, selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui 4 hingga 5 siklus selama 7 sampai 8 jam tidur. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. Tahap NREM I – III berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, individu kembali ke tahap III dan II selam 20 menit. Tahap I REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit.
Selama tidur, individu melewati tahap tidur NREM dan REM. Siklus tidur yang komplek normalnya berlangsung, selama 1,5 jam, dan setiap orang biasanya melalui 4 hingga 5 siklus selama 7 sampai 8 jam tidur. Siklus tersebut dimulai dari tahap NREM yang berlanjut ke tahap REM. Tahap NREM I – III berlangsung selama 30 menit, kemudian diteruskan ke tahap IV selama kurang lebih 20 menit. Setelah itu, individu kembali ke tahap III dan II selam 20 menit. Tahap I REM muncul sesudahnya dan berlangsung selama 10 menit.
Kebutuhan dan pola tidur normal:
Bayi baru lahir : Lama tidur 14-18 jam/hari dengan 50% REM dan 1 siklus tidur rata-rata 45-60 menit
Bayi (s/d 1 thn) : 1 siklus tidur rata-rata 12-14 jam/hari dengan 20-30% REM dan tidur sepanjang malam
Todler (1-3 thn): Lama tidur 11-12 jam/hari dengan 25% REM dan Tidur sepanjang malam + tidur siang
Pra sekolah : ± 11 jam/hari dengan 20% REM
Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM
Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM
Adolescent : ± 8,5 jam/hari dengan 20% REM
Dewasa muda : 7-8 jam/hari dengan 20-25% REM
Dewasa menengah : ± 7 jam/hari dengan 20% REM dan sering sulit tidur
Dewasa tua : ± 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur
Bayi baru lahir : Lama tidur 14-18 jam/hari dengan 50% REM dan 1 siklus tidur rata-rata 45-60 menit
Bayi (s/d 1 thn) : 1 siklus tidur rata-rata 12-14 jam/hari dengan 20-30% REM dan tidur sepanjang malam
Todler (1-3 thn): Lama tidur 11-12 jam/hari dengan 25% REM dan Tidur sepanjang malam + tidur siang
Pra sekolah : ± 11 jam/hari dengan 20% REM
Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM
Usia sekolah : ± 10 jam/hari dengan 18,5% REM
Adolescent : ± 8,5 jam/hari dengan 20% REM
Dewasa muda : 7-8 jam/hari dengan 20-25% REM
Dewasa menengah : ± 7 jam/hari dengan 20% REM dan sering sulit tidur
Dewasa tua : ± 6 jam/hari dengan 20-25% REM dan sering sulit tidur
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Kuantitas dan Kualitas Tidur:
1. Penyakit
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang banyak daripada biasanya. Di samping itu siklus bangun-tidur selama sakit dapat mengalami gangguan.
2. Lingkungan
Lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing yang dapat menghambat upaya tidur.
3. Kelelahan
Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang, semakin pendek siklus REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang.
4. Gaya hidup
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur dalam waktu yang tepat.
5. Stres emosional
Anxietas (kegelisahan) dan depresi seringkali mengganggu tidur seseorang. Kondisi anxietas dapat meningkatkan kadar norepinefrin darah melalui stimulus saraf simpatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus REM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur.
6. Stimulan dan alcohol
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP (Sistem Saraf Pusat) sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alkohol telah hilang, individu sering mengalami mimpi buruk.
7. Diet
Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga disaat malam hari.
8. Merokok
Nikotin yang terkandungdalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari.
1. Penyakit
Penyakit dapat menyebabkan nyeri atau distress fisik yang dapat menyebabkan gangguan tidur. Individu yang sakit membutuhkan waktu tidur yang banyak daripada biasanya. Di samping itu siklus bangun-tidur selama sakit dapat mengalami gangguan.
2. Lingkungan
Lingkungan dapat membantu sekaligus menghambat proses tidur. Tidak adanya stimulus tertentu atau adanya stimulus yang asing yang dapat menghambat upaya tidur.
3. Kelelahan
Kondisi tubuh yang lelah dapat mempengaruhi pola tidur seseorang. Semakin lelah seseorang, semakin pendek siklus REM yang dilaluinya. Setelah beristirahat biasanya siklus REM akan kembali memanjang.
4. Gaya hidup
Individu yang sering berganti jam kerja harus mengatur aktivitasnya agar bisa tidur dalam waktu yang tepat.
5. Stres emosional
Anxietas (kegelisahan) dan depresi seringkali mengganggu tidur seseorang. Kondisi anxietas dapat meningkatkan kadar norepinefrin darah melalui stimulus saraf simpatis. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya siklus REM tahap IV dan tidur REM serta seringnya terjaga saat tidur.
6. Stimulan dan alcohol
Kafein yang terkandung dalam beberapa minuman dapat merangsang SSP (Sistem Saraf Pusat) sehingga dapat mengganggu pola tidur. Sedangkan konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menganggu siklus tidur REM. Ketika pengaruh alkohol telah hilang, individu sering mengalami mimpi buruk.
7. Diet
Penurunan berat badan dikaitkan dengan penurunan waktu tidur dan seringnya terjaga disaat malam hari.
8. Merokok
Nikotin yang terkandungdalam rokok memiliki efek stimulasi pada tubuh. Akibatnya, perokok sering kali kesulitan untuk tidur dan mudah terbangun di malam hari.
9. Medikasi
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Hiptonik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM, betabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (misalnya, meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.
10. Motivasi
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. Sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk
Fungsi tidur (Delment & Wolman):
Obat-obatan tertentu dapat mempengaruhi kualitas tidur seseorang. Hiptonik dapat mengganggu tahap III dan IV tidur NREM, betabloker dapat menyebabkan insomnia dan mimpi buruk, sedangkan narkotik (misalnya, meperidin hidroklorida dan morfin) diketahui dapat menekan tidur REM dan menyebabkan seringnya terjaga di malam hari.
10. Motivasi
Keinginan untuk tetap terjaga terkadang dapat menutupi perasaan lelah seseorang. Sebaliknya, perasaan bosan atau tidak adanya motivasi untuk terjaga sering kali dapat mendatangkan kantuk
Fungsi tidur (Delment & Wolman):
- Beradaptasi
terhadap rangsangan yang dapat menimbulkan kecemasan.
- Memperbaiki
ingatan.
- Mempermudah
mempelajari sesuatu serta dalam mengatasi masalah-masalah yang sulit.
- Relaksasi
Gangguan-Gangguan Tidur yang Sering Terjadi:
1. Insomnia
Insomnia adalah ketidakmampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas
maupun kuantitas.
Ada 3 jenis insomnia, yaitu:
a. Insomnia inisial, yaitu kesulitan untuk memulai tidur.
b. Insomnia intermiten, yaitu kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
c. Insomnia terminal, yaitu bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.
2. Parasomnia
Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur.
3. Hipersomnia
Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berlebihan terutama pada siang hari.
4. Narkolepsi
Narkolepsi adalah rasa kantuk yang tidak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba.
a. Insomnia inisial, yaitu kesulitan untuk memulai tidur.
b. Insomnia intermiten, yaitu kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
c. Insomnia terminal, yaitu bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.
2. Parasomnia
Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur.
3. Hipersomnia
Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berlebihan terutama pada siang hari.
4. Narkolepsi
Narkolepsi adalah rasa kantuk yang tidak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba.
5. Mendengkur / mengorok
Kebanyakan orang dewasa mendengkur saat tidur. Suara dengkuran berasal dari udara masuk yang menggetarkan
jaringan halus di tenggorokan. Mendengkur bisa menjadi masalah karena
suara yang dihasilkannya tersebut. Selain itu, mendengkur bisa menjadi
pertanda utama masalah tidur yang lebih serius, yaitu sleep apnea.
6. Apnea saat tidurApnea saat tidur atau sleep apnea adalah kondisi terhentinya napas secara periodik pada saat tidur.
-------------------------------------------------------------------------------------------
Lanjutkan Membacanya pada Bagian Ke II
"Seputar Tentang Tidur"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar